Bappelitbangda, Larantuka, Pada hari Kamis, 25 April 2024 Tim Kerja Balita, Dwi Okta dan Tim Kerja Penurunan Stunting, Lia irawati serta Rian Anggraini dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dan Dinas Kesehatan Provinsi Nusa Tenggara Timur diwakili Raymondus Vidigal Umbu Dagha, SKM melakukan kunjungan di Kabupaten Flores Timur.  Kegiatan ini berorientasi pada monitoring dan evaluasi terkait upaya percepatan penurunan stunting secara nasional.

Tiga agenda penting dari kegiatan ini adalah pertama, kunjungan ke sekretarat Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) pada Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten Flores Timur. Kedua, field visit ke Puskesmas Lewolema dan ketiga, Focus Group Discussion (FGD) bertempat di Aula Bappelitbangda Kabupaten Flores Timur. Sebelum melakukan tiga agenda penting tersebut, rombongan Kementerian Kesehatan dan Dinas Kesehatan Provinsi NTT melakukan pertemuan dengan Sekretaris Daerah Kabupaten Flores Timur untuk menyampaikan maksud dan tujuan kunjungan.

Dinas Kesehatan Provinsi Nusa Tenggara Timur menyampaikan bahwa terdapat praktek baik yang mendukung penurunan stunting di Kabupaten Flores Timur sehingga perlu ada pembelajaran bersama tim di tingkat kabupaten. Inovasi Bapak Peduli Anak (BAPEDA) yang dikembangkan Puskesmas Lewolema menjadi contoh dari praktik baik dimaksud.  Hal lain dari keberhasilan penanganan stunting di Kabupaten Flores Timur ditunjukkan oleh publikasi data bulan timbang Februari 2024 dibandingkan data bulan timbang pada Agustus 2023 menunjukkan adanya penurunan angka stunting.

Point-point yang dibahas dalam FGD adalah pemaparan materi capaian intervensi spesifik penanangan stunting di Kabupaten Flores Timur oleh Tim Konvergensi Stunting Kabupaten Flores Timur dan materi terkait Petunjuk Teknis Pemberian Makanan Tambahan oleh Kementerian Kesehatan. Tim Konvergensi Stunting Kabupaten Flores Timur melakukan intervensi spesifik dengan sasaran kegiatan yang melibatkan remaja puteri, calon pengantin, ibu hamil dan bayi/balita sebagai siklus dalam pencegahan stunting. Upaya-upaya riil dari intervensi spesifik yang sudah sedang berlangsung adalah keterlibatan dalam kursus persiapan perkawinan, pemberian makanan tambahan, kelas ibu hamil, posyandu remaja dan mengembangkan inovasi pendukung seperti Bapeda. Materi dari Kementerian Kesehatan berisi tentang tata laksana treatment pada balita bermasalah gizi dan ibu hamil bermasalah gizi.

Penekanan penting dari pelayanan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) lokal terletak pada fungsi PMT sebagai tambahan asupan dan bukan pengganti makanan utama, serta harus dikuti dengan edukasi karena pemberian PMT baik pada balita maupun ibu hamil mengedepankan prinsip pemberdayaan masyarakat. Dalam pemaparan materi juga diuraikan contoh komposisi makanan PMT bagi balita dan ibu hamil yang pada prinsipnya harus kaya akan kandungan protein hewani. Bedanya, pada balita disarankan protein hewani bersumber dari dua jenis hewani berbeda dalam satu porsi makan, misalnya telur dan ikan dengan tujuan agar balita mendapatkan kandungan protein tinggi dan asam amino lengkap. Sedangkan pada ibu hamil, asupan protein hewani dengan harus membatasi penggunaan gula, garam dan lemak tinggi.

Informasi substansial lain yang perlu diketahui terkait perkembangan balita adalah kenaikan Panjang badan atau tinggi badan normal anak dalam satu tahun. Semakin bertambahnya umur seorang anak, pertumbuhan tinggi badannya akan melambat. Nornalnya seorang anak pada umur 0-1 tahun akan mengalami pertumbuhan panjang badan 25 cm, pada umur 1-2 tahun naik 13 cm. Selanjutnya pada umur 2-3 tahun tingginya bertambah 10 cm, umur 3-4 tahun mengalami kenaikan tinggi badan 7 cm dan pada umur 4-5 tahun tinggi naik 6 cm.

Menurut kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian dan Pengembangan Daerah Kabupaten Flores Timur, Apolonia Corebima, SE, M.Si, dari kegiatan diskusi ada hal baru yang didapat terkait perluasan sasaran intervensi Pemberian Makanan Tambahan (PMT), bahwasannya PMT tidak hanya diberikan pada bayi stunting, tetapi juga pada balita yang tidak naik berat badannya, balita gizi buruk, balita berat badan kurang dan balita gizi kurang. Praktik yang masih keliru dalam penerapan PMT adalah perlakuan PMT yang tidak sesuai kategori balita yang tersasar. Seharusnya PMT lokal diberikan selama dua minggu balita tidak naik berat badan, dua puluh delapan hari untuk balita berat badan kurang, empat hingga delapan minggu untuk balita gizi kurang dan untuk balita gizi buruk penanganannya adalah dengan dirujuk ke rumah sakit dan melibatkan dokter ahli.

Similar Posts